Selasa, 29 November 2016

Bandung One Night Stand


Malam itu aku berangkat ke Bandung dgn kereta eksekutif. Rasanya malas harus pergi malam-malam, tp karena tugas kantor besok harus bertemu klien di sana, maka akupun berangkat juga. Suasana gerbong malam itu tdk terlalu ramai, memang bukan waktu liburan, jadi tak banyak penumpang. Kusetel tempat dudukku agar aku bisa tiduran. Tetapi baru saja aku mau memejamkan mata, pramugrari mengantarkan makanan kecil dan minuman hangat.
“Mau teh atau kopi, Mas?” tanya pramugari itu.

Aku mengusap wajahku sebelum menjawabnya,
”Teh saja.” Sesaat kudongakkan wajahku, seperti kukenali wajah pramugari yg menawarkan kopi itu.
“Maaf, Neng. Apa kita pernah bertemu ya?” tanyaku sebelum ia beranjak ke kursi berikutnya.
Ia menatapku lekat-lekat lalu tersenyum riang.
“Ya ampun, Randi. Apa kabar?”
“Lina, kan?”
“Iya. Sebentar ya, aku selesaikan dulu tugasku.” Tanpa menunggu jawabanku, Lina bergegas menyelesaikan tugasnya.
Beberapa menit kemudian ia lewat sambil meletakkan secarik kertas di meja makanku.
“Ke gerbong mesin saja, tugasku sdh selesai. Letaknya dua gerbong di depan gerbong ini.” Pesan Lina dlm kertas itu.
Aku menggeliat sebentar sebelum bangkit dan beranjak dari tempat dudukku. Tak ada yg memperhatikanku. Di samping hanya lampu tidur yg dinyalakan, ternyata beberapa penumpang yg ada di gerbongku sdh terlelap semua. Aku bergegas menuju ke gerbong mesin dgn berhati-hati agar tdk menimbulkan curiga orang lain.
Lina sdh berada di sana, duduk di atas kotak kayu. Gadis itu langsung menghambur dlm pelukanku begitu aku menghampirinya. Aku pun membalasnya dgn pelukan yg erat. Kurasakan toketnya yg besar mengganjal di dadaku. Sesaat darah laki-lakiku berdesir.
“Sdh lama sekali sejak kita lulus SMA ya. Senang rasanya aku bisa bertemu kamu lagi,” kata Lina di telingaku.
“Aku juga. Kangen deh rasanya sama kamu?”
“Ah, gombal. Kamu memang nggak berubah dari dulu, masih pandai merayu.”
Suara bising mesin membuat kami harus berbicara dekat-dekat telinga. Kesempatan itu kugunakan untuk menggodanya. Aku pura-pura akan membisikinya, tp bukan itu yg kulakukan, aku malah mengecup pipi gadis itu.
“Ahhh, Randi nakal,” gerutunya dgn suara manja.
Bukannya berhenti, aku malah memindahkan bibirku mengecup bibirnya. Kali ini Lina tak bisa berbicara lagi, karena aku telah mengulum bibirnya beberapa saat lamanya. Ia sampai gelagapan dibuatnya. Kulepaskan ciumanku sesaat saja, selanjutnya kembali kupagut bibirnya yg tipis merah merekah itu. Lina membalasku. Gadis itu memelukku erat-erat, terasa sepasang toketnya mulai mengencang. Aku tahu, dia sedang bergairah.
Kupindahkan mulutku menjelajahi lehernya yg jenjang. Hanya beberapa saat saja di situ. Aku turun lagi sambil membuka kancing kemeja dinasnya. Kujilati pangkal toketnya yg masih tertutup BH berwarna putih. Kutarik Bhnya ke bawah sehingga toketnya terlihat semakin mengencang. Kujilati putingnya yg mengacung. Lina menggelinjang berkali-kali. Kuremas-remas sepasang daging kenyal itu dgn lembut. Lina mendesah-desah perlahan.
“Ohhh…aahhhh….terusin, sayang…ohhhh….enak sekali….”
Berganti-ganti mulutku mengulumi puting kedua toketnya. Sesekali kuhisap dan kugigit-gigit lalu kuusap-usap dgn lidahku. Lina merintih lirih. Aku tahu birahi gadis itu semakin meninggi, terlihat dari toketnya yg semakin mengeras dan putingnya yg semakin mengacung.
Kuhentikan permainanku di sana. Sepasang toket Lina tampak memar dan memerah karena permainanku tadi. Kubopong tubuh dan kududukkan di atas kotak kayu yg tadi ia duduki. Kutarik sebelah kakinya agar berada di atas kotak sedangkan yg satu lagi tetap menjuntai ke bawah. Kusingkapkan rok spannya ke arah perut. Kini selangkangan gadis itu terbuka lebar. Pangkal pahanya masih tertutup celana dlm berwarna merah muda. Aku jongkok di hadapan selangkangannya. Kuremas-remas kemaluannya yg masih tertutup celana dlm dgn ujung-ujung jemariku.
“Oh, ah..” Lina kembali menggelinjang.
Aku semakin tak tahan. Kuperosotkan celana dlm gadis itu, lalu kumasukkan celana dlmnya ke saku celanaku. Kini bisa kunikmati pemandangan yg indah terpampang di hadapanku. Tanganku pun segera beraksi pada pangkal paha gadis itu. Kemaluan Lina tampak bersih dan mulus tanpa sehelai rambut pun yg menghiasi sekitar bibir kemaluannya. Rupanya ia begitu memperhatikan bagian yg sangat pribadi itu. Kusibakkan bibir kemaluannya dgn jemari tangan kiriku. Lalu telunjuk tangan kananku mulai menggelitik klitorisnya.
“Ohhh….Ohhh….Ahhhh…” Lina mendesah lirih. Tubuh gadis itu meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
Ia memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Rupanya Lina sdh tak sanggup lagi menahan gejolak birahinya. Aku semakin bersemangat untuk mempermainkan kemaluannya.
Kugelitik bibir dlm kemaluannya yg lembut dan terasa basah. Kemudian dgn lembut telunjukku menerobos masuk lubang kemaluannya yg basah dan licin oleh lendir birahi gadis itu.
“Ahhhh….Uhhhh….Ssshhhh…” Kembali Lina mendesah-desah kenikmatan ketika telunjukku menekan-nekan G-spot yg ada di dlm kemaluannya.
Kurasakan otot-otot seputar lubang kemaluannya berkontraksi menjepit jemariku.
Aku ingin membuat Lina semakin melayg. Maka mulutku pun tdk tinggal diam. Kukecup bibir kemaluannya dgn lembut diiringi lidahku yg kemudian menari-nari sekitar klitorisnya. Kurasakan jari telunjukku yg masih di dlm lubangnya semakin basah oleh lendirnya yg semakin deras mengalir. Lidahku terus bermain-main di sekitar klitoris dan bibir kecilnya. Sesekali kutekan klitorisnya dgn lidahku dan kurasakan bagian itu semakin menonjol dan mengeras. Yg kubaca di buku, bila wanita sdh begitu, berarti birahinya sdh memuncak.
“Ohhhh….Randiiii …Aku sdh nggak tahan lagi…” bisik Lina dgn suara serak.
Aku belum mau berhenti. Bisikan Lina justru membuatku semakin bersemangat untuk merangsang birahinya. Kini kutarik jari telunjukku dari dlm lubang kemaluannya. Kuhunjamkan mulutku pada kemaluannya. Kuhisap, kugelitik dan kujilati semua yg ada di sana. Lina semakin histeris.
“Ouww!!” pekik Lina tertahan. Gadis itu meremas-remas rambut kepalaku sambil kedua pahanya menjepit kepalaku. Mulutku semakin terbenam dlm kemaluannya dan membuatku sulit bernafas. Aku pun semakin menggila. Kuhisap klitorisnya dgn keras.
“Ouwww!!” Lina menjerit lagi.
“Ohhh..Randii, ayolah…aku sdh nggak kuat lagi..”
Lina melepaskan jepitan pahanya. Aku tahu isyarat itu. Kuangkat kepalaku dari pangkal pahanya. Kusapu mulutku yg basah dgn punggung tanganku. Kupandangi sebentar wajah Lina yg pucat karena menahan birahinya yg semakin memuncak. Aku jadi kasihan melihatnya. Kubuka ikat pinggangku dan kuperosotkan celanaku sebatas lutut berikut celana dlmku. Batang k0ntolku sdh tegang dan mengacung pertanda siap untuk bertempur.
Lina segera menggenggam kemaluanku, membelai-belainya sebentar, kemudian menariknya dan mengarahkannya pada lubang kemaluannya sendiri. Aku merapatkan ujung kemaluanku pada permukaan lubang kemaluan gadis itu. Setelah tepat, kutekan perlahan sehingga batang batang k0ntolku menerobos lubang meqinya perlahan-lahan. Kutekan lebih dlm lagi sampai seluruh kemaluanku amblas dlm lubang kemaluannya.
“Ohhhhhhh…..” Lina mendesah panjang ketika batang kemaluanku menerobos masuk lubang meqinya.
Lina merebahkan tubuhnya 45 derajat bertumpu pada kedua sikunya. Kutarik kedua kaki gadis itu ke atas pundakku sebelum aku mulai menggerakkan kemaluanku. Dgn posisi itu kemaluanku terasa semakin dlm menembus meqinya. Itu juga membuatku merasa nikmat. Dgn teratur aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Kemaluanku pun keluar masuk lubang meqinya dgn teratur dan berirama.
“Ohhh…yaaahhh….ayo sayang bergerak makin cepat, aku sdh nggak tahan lagi,” bisik Lina diiringi desahan dan desisan nikmat.
Aku pun semakin bersemangat mengocok. Saking bersemangatnya suara kemaluan kami yg beradu sampai mengeluarkan suara berdecak-decak. Tetapi semua teredam oleh bunyi berisik suara mesin kereta. Aku terus memacu menuju ke puncak dan agaknya Lina akan sampai lebih dulu. Kurasakan tubuh Lina semakin menegang. Otot-otot di seputar lubang kemaluannya juga semakin terasa kencang menjepit kemaluanku. Lendir yg ia keluarkan juga semakin deras.
“Ayo Randi….aku sdh mau keluar nihh…” kata Lina dgn nafas tak beraturan.
Aku justru menghentikan gerakanku. Kutarik tubuh Lina agar berubah posisi. Kusuruh ia menungging dgn paha terbuka. Kuarahkan batang k0ntolku pada lubang kemaluannya yg terbuka lebar. Sesaat saja langsung amblas ditelan lubang meqinya. Sesaat kemudian aku sdh kembali bergerak maju mundur. Kali ini gerakanku semakin tak beraturan.
“Yahhhh….ayooo…terus sayang…aku mau keluar nihh…” kata Lina lagi.
“Sabar, sayang. Aku juga mau keluar. Kita keluarin sama-sama,” sahutku.
Kucengkeram pinggang gadis itu dan kugerakkan kemaluanku semakin cepat. Kurasakan dinding-dinding meqi Lina semakin mengeras dan menjepit kemaluanku. Kurasakan tubuhku juga semakin menegang. Ada sesuatu yg seolah bergerak dari sekujur tubuhku menuju satu titik pada kemaluanku.
Aku menekan dgn hentakan keras. Kupeluk tubuh Lina dari belakang dgn erat, sehingga kemaluan kami berpaut erat sekali. Tubuhku mengejan dan muncratlah berkali-kali air maniku menyembur dlm meqi gadis itu. Kurasakan Lina pun mengejan dan membanjirlah lendirnya menyambut air spermaku.
Sesaat kemudian tubuhku terasa lemas. Kupeluk tubuh Lina dari belakang tanpa melepaskan kemaluanku dari dlm lubang kemaluannya. Kurasakan juga tubuh Lina yg tadi tegang, sekarang sdh kembali normal.
“Ouw!” pekik Lina manakala batang kemaluanku kucabut dari dlm lubang kemaluannya.
Aku duduk di atas kotak itu dan kutarik tubuh Lina ke atas pangkuanku. Kutatap wajahnya yg memerah dgn titik-titik keringat menghiasi dahinya. Kukecup dgn mesra bibirnya yg basah.
“Thanks ya, Randi,” bisik gadis itu. Aku hanya tersenyum membalasnya.
Kupeluk tubuh gadis itu dgn erat lalu kukecup puting susunya. Ia menggelinjang.
“Ahh, kamu memang nakal. Mau lagi?” tawarnya. Aku hanya mengangguk.
“Sdh satu jam. Nanti aku dicari teman-temanku,” sahut Lina sambil merapikan pakaiannya.
Aku seolah menunjukkan wajah kecewa.
“Jangan marah dong. Nanti kan kita bisa ketemu lagi. Hari ini aku off, besok pagi aku baru kembali ke Jakarta. Kamu nginap dimana?” tanya Lina sambil mengecup pipiku.
Aku pun memberikan alamat Hotel tempat aku akan menginap yg rupanya tak jauh dari mess pegawai kereta api tempat ia menginap. Setelah terlihat rapi, Lina pun meninggalkanku. Aku baru sadar setelah ia tak kelihatan lagi, kalau celana dlmnya masih kukantongi. Aku pun segera merapikan pakaianku lalu kembali ke tempat dudukku. Biarlah celana dlm itu kusimpan sebagai kenangan kalau nanti malam ia tak jadi datang.
Aku gembira sekali karena tender yg kuurus berhasil. Setelah makan malam dgn klienku, aku kembali ke kamar hotelku. Sebenarnya aku ingin menikmati kota Bandung di malam hari, tp kuurungkan niatku karena masih ada dua hari lagi aku di sana. Setelah menggosok gigi, aku mengenakan kaos oblong dan celana pendek lalu merebahkan diri di atas sofa sambil menonton acara di televisi. Ketika sedang mengganti-ganti channel TV, ponselku berdering. Rupanya Lina yg menelpon. Ia sdh berada di lobi hotel.
“Naik saja langsung ke kamar 225,” kataku.
“Oke,” sahut Lina.
Tak lama kemudian Lina masuk dan mengunci pintu kamarku. Gadis itu mengenakan kaos putih dan celana jeans warna hitam, tampak serasi dgn tubuhnya yg atletis. Ia membawa soft drink dan makanan ringan kesukaanku, kacang mede.
“Kirain nggak jadi datang,” kataku.
“Harus dong, kan celana dlmku masih ada sama kamu. Masak aku pulang ke Jakarta nggak pakai celana dlm,” seloroh gadis itu.
“Memangnya cuma bawa satu?”
“He-eh,” jawabnya singkat sambil tersenyum menggoda. Aku tahu ia hanya bergurau.
Sesaat kemudian kami sdh tenggelam dgn candaan dan gurauan ringan sambil makan kacang mede. Sesekali kami saling menyuapi, berbagi minum lalu main gelitik-gelitikan, persis seperti anak-anak ABG saja. Tp itu membuatku merasa fresh lagi.
Pukul sembilan malam makanan kecil dan minuman kami sdh habis. Lina pamit ke kamar mandi. Aku mematikan lampu ceiling dan menyalakan lampu baca di meja sebelah tempat tidur. Aku masih menonton televisi. Tiba-tiba Lina duduk di pangkuanku dgn posisi mengangkangiku.
“Masih mau lanjutin yg tadi pagi?” bisiknya di telingaku. Nafasnya terasa panas menyulut gairahku. Belum sempat kujawab, Lina sdh melumat bibirku dgn bernafsu. Aku pun membalasnya dgn penuh nafsu pula. Bibir kami saling mengulum dan lidah kami saling mengait. Sementara kedua tangan Lina memeluk kepalaku, tanganku sdh menerobos masuk ke balik t-shirtnya.
Aku langsung mencari kancing BH di punggungnya. Sekali tarik saja kancing BH gadis itu sdh terlepas. Tanganku segera berpindah ke depan dan menemukan sepasang bukit kenyal dgn puncaknya yg mungil. Kusingkapkan ke atas t-shirt dan BH-nya, tampaklah sepasang toket yg putih montok namun tdk terlalu besar untuk ukuran gadis Indonesia.
Kuremas-remas dgn lembut onggokan daging mengkal sebesar buah apel Fuji itu dan kupilin-pilin putingnya yg mungil dan kenyal itu. Lina menggelinjang dan mendesah lirih. Secara bergantian kusapukan lidahku di atas toket gadis itu, kugelitik putingnya sambil sesekali kuhisap dgn keras. Desahan Lina makin panjang.
“Sshhhhh….aaaahhhh…” seperti desisan kobra Lina mendesis dan mendesah meresapi permainan lidahku di atas toketnya.
Tangannya meremasi rambut kepalaku sambil sesekali menekan kepalaku ke dadanya sehingga membuat wajahku tenggelam di atas toketnya yg empuk. Semakin lama kurasakan toket gadis itu semakin mengeras dan putingnya semakin menonjol. Itu adalah tanda birahi gadis itu mulai naik.
Kutanggalkan t-shirt dan BH Lina, sementara ia juga menarik kaos oblong yg kukenakan. Bagian tubuh atas kami sdh telanjang sekarang. Kini giliran Lina yg agresif. Gadis itu menciumi leherku, menggelitik bagian bawah telingaku, lalu turun menjilati putingku yg kecil dan meremasi dadaku yg lumayan bidang. Bukan membuatku terangsang, malah membuatku geli. Aku tdk tinggal diam. Kuangkat tubuh Lina dan kubarangkan di sofa dgn punggung berada di sandaran sofa.
Kembali mulutku bermain-main di seputar dada gadis itu. Kuremas-remas toketnya yg semain lama semakin mengeras. Kupilin-pilin, kujilati dan kuhisap putingnya yg juga semakin mengeras sambil sesekali kugigit-gigit lembut. Lina mendesah-desah dibuatnya.
“Ouhhh…ouhh…aahhh..aahhh…shhhhh..” Tubuh gadis itu meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
Setelah puas bermain di sana, mulutku turun ke bawah dan menjilati perutnya, kemudian turun menggelitik pusarnya yg bersih. Kembali tubuh Lina meliuk-liuk, entah geli atau semakin terangsang. Kubuka kancing jeans gadis itu. Kutarik resletingnya lalu kutanggalkan segera. Tinggal celana dlm yg kini membungkus tubuh sexy itu. Itu pun tdk bertahan lama karena aku segera menariknya. Dan tampaklah tubuh Lina yg sexy itu polos tanpa sehelai kain menutupinya.
Kuciumi sepasang pahanya yg putih mulus, bersih tanpa ada cacat sedikit pun. Semakin lama mulutku semakin ke atas dan berhenti pada pangkal pahanya. Kutemukan seonggok daging terbelah tanpa bulu yg biasa menghiasi kemaluan orang dewasa.
“Rajin cukur ya?” tanyaku setengah berbisik yg dibalas dgn anggukan kepala oleh Lina disertai senyuman manis dan pasrah.
Kesibakkan sepasang bibir luar atau yg biasa disebut labia mayora yg berwarna kehitaman. Di dlmnya kutemukan sepasang bibir dlm berwarna merah muda yg tipis dan halus dan sedikit basah, sehingga tampak mengkilap di bawah bias sinar lampu. Bagian itu dinamakan labia minora. Di ujung atas ada bagian yg kecil dan menonjol, itulah klitoris atau kelentitnya. Dari buku yg kubaca, bagian itu adalah bagian yg paling gampang terangsang. Maka akupun mendekatkan mulutku ke sana. Kusapukan lidahku pada bibir kecilnya lalu berhenti pada klitorisnya. Dgn ujung lidahku kugelitik bagian itu sambil sesekali kutekan-tekan, terasa semakin lama semakin menonjol. Benar saja, Lina semakin kepayahan dibuatnya.
“Ohhhh…ohhh…ahhhh…ahhhh…” desah Lina kenikmatan. “Terusin sayang…ohhh… enak sekali sayang…”
Pada bagian bawah ada lubang kecil tempat keluar air seni, itu adalah lubang kencing. Lalu di bawahnya ada lubang yg basah dan licin, itu adalah lubang senggama atau biasa disebut meqi. Dari lubang itu melelh air lendir birahi gadis itu. Lidahku berpindah ke sana menjilat cairan bening yg rasanya asin itu, lalu ujung lidahku menerobos masuk dan menggelitik rongga meqinya.
“Ohhh…ohhh….aahhhhhhhh…” kembali Lina mendesah-desah kenikmatan.
Tangannya dgn kuat mencengkeram kepalaku dan membuat rambutku berantakan. Sesekali pahanya menjepit kepalaku sehingga mulutku semakin tenggelam dlm kemaluannya.
“Ohhh, Randi Sayanggg…aku sdh nggak tahan nih…” bisik Lina dgn nafas tersengal-sengal.
Nampaknya ia sdh tak sanggup menahan gejolak birahinya yg semakin tinggi.
Aku melepaskan mulutku dari kemaluannya. Kuseka mulutku yg penuh lendir dgn punggung tanganku. Kemudian aku merebahkan diri di atas sofa sambil kutarik tubuh Lina untuk bangun. Gadis itu segera membuka celana pendekku berikut celana dlmku. Kini kami sdh sama-sama telanjang bulat. Pakaian kami berserakan di lantai. Kami tdk peduli lagi.
Lina segera menggenggam batang kemaluanku yg tegang mengacung dan berdenyut-denyut. Dgn lidahnya disapunya ujung batang k0ntolku yg botak dan licin itu, aku menggelinjang dibuatnya. Tangan gadis itu dgn cekatan mengocok-ngocok batang kemaluanku. Sekali-sekali Lina mengulum batang k0ntolku dlm mulutnya. Rasa hangat dan lembut membuatku semakin terangsang.
“Sdh sayang, yuk kita lanjutin,” bisikku menyudahi permainan itu.
Aku duduk tegak dan punggungku merapat pada sandaran sofa dgn kaki menjuntai ke lantai. Lina berdiri mengangkang di atas kedua pahaku yg merapat. Kutarik pinggangnya perlahan. Lina menurunkan pantatnya perlahan. Kupegangi batang kemaluanku agar mengarah ke lubang meqi gadis itu. Setelah tepat kutarik pinggang Lina dan ia pun menurunkan pantatnya makin rapat ke atas pangkuanku. Maka amblaslah kemaluanku menerobos masuk ke dlm lubang kemaluannya.
Lina mengangkat ke dua kakinya ke atas sofa dan merebahkan tubuhnya ke arahku. Dgn berpegangan pada sandaran kursi dan aku menahan pantatnya dgn kedua tanganku, Lina mulai bergerak naik turun. Kemaluanku dgn sendirinya keluar masuk dgn teratur. Tp posisi itu tdk berlangsung lama, karena kami jadi tdk leluasa beraksi.
Lina merubah posisi masih tetap di atas, tp kali ini kami saling berhadapan. Lina mencondongkan tubuhnya ke arahku dan bertumpu pada sandaran sofa. Kembali ia menggerakkan pantatnya naik turun. Sementara aku memegangi pinggangnya sambil sesekali menekan dan menahannya beberapa detik sehingga batang k0ntolku menerobos semakin dlm.
“Ohhhhh…..” setiap kali aku melakukan itu, Lina mendesah panjang. Ia pasti merasakan batang kemaluanku menembus sampai ke permukaan rahimnya. Dan aku yakin ia merasakan kenikmatan yg luar biasa.
Sepuluh menit sdh berlalu, tp kami sama-sama belum mau orgasmu. Kuangkat tubuh Lina tanpa melepaskan kemalun kami. Lina memelukku erat sekali saat aku menggendongnya, sehingga kemaluan kami seolah lengket karena berpaut begitu erat.
“Ouw..ouw…ahhhhh” jerit-jerit lirih Lina tertahan ketika aku menggendong dan membawanya ke tempat tidur. Kemaluanku melesak-lesak dlm meqi Lina ketika aku berjalan.
Sesampainya di tempat tidur kurebahkan tubuh Lina dgn pantat tepat berada di tepi ranjang. Dgn posisi Lina tidur dan aku berdiri, aku lebih leluasa beraksi. Lina menarik bantal untuk mengganjal kepalanya. Kubka kedua paha gadis itu sehingga kemaluanku lebih leluasa lagi bergerak keluar masuk. Semakin lama lubang meqi Lina semakin licin oleh lendir birahinya.
“Crett..cruttt…” suara kemaluan kami yg beradu seolah irama yg merdu mengiringi kami menuju ke puncak asmara. Aku terus bergerak dgn teratur. Semakin lama gerakan ku semakin cepat. Tubuh kami sdh bermandikan keringat meskipun kamar itu ber-AC.
Setengah jam telah berlalu, ketika Lina tiba-tiba memekik.
“Aaaahhh..aku mau keluar, sayang…”
Segera kudorong tubuh Lina ke tengah ranjang, kami melakukan gaya missionari. Kedua kaki Lina terangkat lalu mengait pinggangku. Aku jadi tdk bisa bergerak. Kini giliran ia yg bergerak berputar-putar. Kemaluanku melesak-lesak dibuatnya. Tak lama akupun mulai merasakan tanda-tanda akan orgasme.
“Ayo sayang, keluarin saja. Aku juga mau keluar,” kataku.
Lina semakin cepat bergoyang. Dan tak lama kemudian ia memelukku erat-erat. Akupun membalasnya. Tubuh kami bagai menyatu. Kemaluan kami seperti lengket. Sesaat tubuh kami sama-sama mengejang. Sedetik kemudian batang k0ntolku menembakkan air mani berkali-kali yg segera disambut dgn lendir birahi gadis itu. Rongga meqi Lina terasa banjir oleh cairan bahagia kami yg menyatu.
Kami masih berpelukan erat selama beberapa menit, menikmati sisa-sisa kenikmatan yg baru saja mencapai puncaknya. Sembari mengatur nafas kami yg tdk beraturan. Aku menggulingkan badanku dgn posisi Lina di atas. Kemaluan kami masih menyatu. Tdk kami lepaskan sampai kami tertidur.
Pukul empat pagi kami terbangun karena kedinginan. Kami kembali sama-sama terangsang. Lalu kami bersenggama lagi sampai kami berkeringat dan kelelahan. Pukul setengah enam pagi Lina mengajakku mandi karena jam sembilan ia harus kembali ke Jakarta.
Setelah mengisi penuh bath tub dgn air hangat dan sabun rendam, aku kembali ke kamar dan membopong tubuh Lina ke sana. Ku turunkan dgn perlahan tubuh gadis itu ke dlm bak mandi lalu aku pun menyusul masuk juga. Kuambil spon lalu kami bergantian saling membersihkan tubuh kami dgn sabun mandi. Setelah bersih, aku membuka tutup lubang bath tub itu sehingga air sabun itu terkuras habis, lalu aku mengganti dgn air yg baru. Lalu kami saling berbilas. Shower kunyalakan sehingga kami seolah mandi di bawah air hujan.
Kami saling berhadapan. Kuambil shower dan kubersihkan sisa-sisa busa sabun di tubuh gadis itu. Lalu gantian Lina menyirami tubuhku. Kami melakukannya dgn bergantian.
Ketika aku membersihkan meqinya, aku kembali terangsang. Perlahan batang k0ntolku pun ereksi. Lina yg melihat hal itu langsung membelai-belai kemaluanku.
“Kayaknya dia mau lagi tuh,” godanya.
“Ini juga, kayaknya memanggil-manggil agar ini masuk ke sana,” balasku sambil menunjuk batang k0ntolku dan meqinya.
“Kita lakukan spontaneous sex yuk,” ajaknya.
“Oke, siapa takut.”
Spontaneous sex itu seks yg dilakukan dgn spontan dan cepat, tanpa pemanasan. Biasanya karena buru-buru, tp nggak tahan lagi, padahal harus bernagkat ke kantor. Atau karena di lift, jadi horni nggak bisa tahan lagi, ya sdh main saja. Atau… seperti kami ini, sedang mandi, tiba-tiba terangsang lalu…ayo saja…
Kami sama-sama keluar dari air. Kami berpelukan sebentar, berciuman dgn panas lalu sesaat kemudian Lina segera mengambil posisi. Ia membungkukkan tubuhnya dgn berpegangan pada tepi bak mandi dgn paha terbuka. Aku berada tepat di belakangnya. Kuraba-raba sebentar kemaluan Lina.
“Ternyata sdh basah ya,” kataku sambil ketawa.
“Iya, kayaknya anuku nggak bisa tahan lihat anumu berdiri,” balasnya sambil tertawa.
Kugenggam batang kemaluanku dan kuarahkan pada lubang kemaluan Lina. Ia menundukkan tubuhnya lebih rendah lagi sampai menungging, sehingga lubang meqinya tampak jelas terbuka dan akupun lebih mudah mengarahkan batang k0ntolku ke sana. Kutekan perlahan dan kudorong dgn lembut, maka amblaslah kemaluanku ditelan kemaluan Lina.
Kupegang pinggang Lina dan aku mulai bergerak maju mundur dgn teratur dan berirama. Kadangkala Lina pun menggerakkan pantatnya maju mundur, sehingga tubuh kami saling beradu.
“Ohhh..yaaahhhhh…ayo…sayang….lebih cepat lagi…” bisik Lina sambil mendesah.
“Oh..yaaaahhhh…” balasku dgn nafas memburu.
Gerakanku semakin lama semakin cepat dan tdk beraturan. Aku sengaja agar permainan itu segera selesai. Dan itu memang inti permainan spontaneous sex. Lina melakukan hal yg sama. Dgn jari-jarinya sendiri ia menggelitik klitorisnya. Dan tak sampai sepuluh menit, Lina sdh menjerit.
“Aaahhhh!! Aku mau keluar sayang….!!!”
“Oooohhhhh…keluarin saja sayang, aku juga mau keluarrrr….”
Aku terus memburu. Gerakanku makin cepat. Kami saling memacu untuk menuju puncak kenikmatan kami. Tubuh Lina sampai terguncang-guncang. Toket gadis itu sampai terlempar ke kanan ke kiri. Tak lama kemudian aku menekan batang k0ntolku dlm-dlm. Kupeluk tubuh Lina dan kucengkeram kedua toketnya dari belakang. Lina juga mendorong pantatnya ke belakang. Terasa batang k0ntolku menancap begitu dlm di lubang meqinya.
“Ohh yaaa!!!!” jerit Lina ketika ia mencapai orgasme.
Aku pun menyusul beberapa detik kemudian dgn ditandai mucratnya air maniku berkali-kali.
“Hehh..hhh…ogghhhhhh..aaaaaahhhhhhh…” desah suara Lina dgn nafas tersengal-sengal.
“Ternyata nikmat juga ya main cepat seperti ini. Kamu memang hebat, Randi sayang.”
“Kamu juga hebat,” bisikku sambil mengecup pipinya.
Aku melepaskan pelukanku. Kami duduk di tepi bak mandi. Kulihat dada Lina turun naik karena nafas yg tdk beraturan. Tubuh gadis itu tampak sensual dgn bintik-bintik air dan keringat menghiasi sekujur tubuhnya, ditambah rambutnya yg basah tergerai, benar-benar wonderful girl.
“Thanks ya, sayang,” bisik Lina sambil mengecup bibirku lembut.
“Thanks juga,” balasku sambil memeluknya.
“Lain kali, boleh nggak aku minta?” tanya Lina berharap.
Aku tersenyum dan menatapnya lembut.
“Mau berapa kali?” tanyaku di telinganya.
“Ratusan,” sahut Lina meniru iklan Wafer Tango.
Kami pun segera berbilas. Setelah berpakaian dan sarapan Lina pun berpamitan. Aku menciumnya sekali lagi sebelum dia pergi.
“CD-nya nggak dibawa?” tanyaku mengulurkan celana dlm yg kemarin kukantongi.
“Nggak usah, buat kamu saja. Biar selalu ingat sama aku,” jawabnya sambil tertawa sebelum membuka pintu dan pergi.
Setelah Lina pergi, aku merebahkan diriku di tempat tidur. Aku mau tidur saja. Tubuhku terasa lelah sekali. Lina benar-benar menguras habis tenagaku. Sebelum tidur aku minum multi vitamin dan STMJ agar nanti bangun tubuhku kembali prima.